KESIAPAN MENTAL versus KEMATANGAN PEMAHAMAN Suami yang beruntung adalah yang mendapatkan istri yang memiliki sifat-sifat yang dikendaki oleh hukum syara' yakni beragama dengan baik, cukup harta, dan keturunan baik-baik dan cantik. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Saw.: "Seorang wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang mempunyai agama, niscaya kamu beruntung." [HR. Bukhari dan Muslim]. "Dapatkan wanita yang beragama, (jika tidak) niscaya engkau merugi." [HR. Bukhari dan Muslim]. “Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, karena agamanya. Oleh karena itu, pilihlah wanita karena agamanya, niscaya engkau akan beruntung.” [HR. Abu Hurayrah]. Namun, dalam hadits lain beliau mengingatkan agar laki-laki tidak mudah tergiur oleh kecantikan dan harta -lepas dari keturunan yang baik dan lingkungan- karena hal itu akan membawa efek negatif dan sangat berbahaya. Sabda beliau itu berbunyi: "Janganlah kalian mengawini wanita karena kecantikannya, mungkin kecantikannya itu banyak mencelakakan. Dan janganlah kamu kawini wanita karena hartanya, mungkin hartanya itu bisa menyombongkannya. Akan tetapi, kawinilah mereka karena agamanya, sesungguhnya hamba sahaya yang hitam warna kulitnya tapi beragama itu lebih utama." [HR. Ibnu Majjah, Al-Bazzar, dan Baihaki]. “Hati-hatilah dari wanita cantik yang dilahirkan dari keluarga yang buruk.” Dari ketiga hadits diatas dapat isyarat dalam memilih calon istri diutamakan yang memiliki rasa keberagamaan yang baik dan memahami agamanya dengan baik pula tanpa menafikan kriteria yang lainnya. Jelasnya, wanita yang bisa menjadi sosok istri ideal adalah muslimah sholehah (mar’atush sholehah) yang mengerti agama dan taat beribadah. Mar’atush Sholehah (wanita yang sholeh) yang beraqidah islam, bersyakhshiyah Islamiyyah dan selalu meningkatkan amal perbuatannya sesuai dengan hukum syara’, memiliki ciri-ciri yang dapat dilihat dari sosoknya yang menggembirakan bila dipandang, taat bila diperintah dan amanah, seperti dalam sabda Rasulullah Saw.: “Sebaik-baik wanita adalah apabila engkau melihatnya, dia menggembirakan. Apabila engkau perintah dia mentaatimu, dan ia senantiasa memelihara dirinya dan hartamu di belakangmu.” [HR. at-Tabroni dari Abdullah bin Salam]. Selain itu mar’atush sholehah dapat dilihat dari sifatnya yang suka membantu dan mendorong dalam urusan akhirat, seperti sabda Rasulullah Saw.: “Hendaknya tiap-tiap orang berusaha memiliki hati yang bersyukur dan lidah yang berdzikir dan memiliki istri yang membantu dan mendorong dalam masalah akhirat.” [Ar-Rokhawi dari hadits Abu Hurayrah]. Oleh karena itu dalam pandangan Islam, mar’atush sholehah adalah suatu harta yang sangat mahal dan bernilai paling tinggi. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda: “Dunia adalah perhiasan, sebaik-baik perhiasan dunia adalah mar’atush sholehah.” [HR. Muslim, Ibnu Majah, an-Nasa’i]. Dari Abdullah bin Umar r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: "Dunia semuanya adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita sholehah." [HR. Muslim]. Sehingga istri yang sholehah adalah wanita yang memiliki aqidah Islamiyyah yang matang, syakhshiyah Islamiyyah yang baik, memiliki naluriyah mencintai dan menyayangi anak kecil, mempunyai perhatian besar bagi pendidikan anak, teliti dan perhatian terhadap kebutuhan suami, setia, dapat memelihara dengan baik dan mampu mengatur ekonomi keluarga, yang mampu menciptakan kebahagiaan, ketentaraman, ketenangan dan keteduhan. Selain itu juga mampu menghindarkan berbagai kesulitan dan rintangan dalam rumah tangga yang selanjutnya dapat menjadi seorang pendidik bagi anak-anaknya, pencetak generasi yang tangguh dan melahirkan anak-anak yang pintar. Nikahilah juga wanita-wanita yang masih gadis, penyayang dan subur. Kesuburannya dapat diketahui dari ibunya, bibinya, atau pamannya. Jabir menuturkan bahwa Nabi pernah Saw. bertanya kepada dirinya, “Jabir, apakah engkau mengawini wanita yang masih gadis atau janda?” Jabir menjawab, “Janda.” Mendengar itu, Nabi Saw. lantas bersabda sebagai berikut: “Mengapa engkau tidak mengawini wanita yang masih gadis agar engkau bisa bermain-main dan ia-pun dapat bermain-main denganmu?” “Kawinilah oleh kalian wanita penyayang dan subur keturunannya, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian dihadapan para nabi yang lain pada hari kiamat nanti.” [HR. Anas ra]. “Kepada Nabi Saw. pernah datang seorang laki-laki yang kemudian berkata, “Sesungguhnya berniat untuk mengawini wanita berketurunan baik lagi cantik, tetapi ia mandul. Bolehkah saya mengawininya?” Nabi Saw. bersabda: “Tidak.” Lalu datang kepada Nabi Saw. laki-laki kedua dan beliau juga melarangnya. Selanjutnya, datang laki-laki ketiga, lantas Nasbi Saw. bersabda, “Kawinlah oleh kalian wanita penyayang dan subur, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian.” [HR. Ma’qil ibn Yasar]. "Kawinilah olehmu sekalian wanita yang banyak melahirkan anak dan penuh kecintaan. Karena sesungguhnya aku ingin memiliki banyak ummat dengan kamu sekalian." [HR Abu Daud, An-Nasa'i dan al-Hakim]. Sama halnya dengan seorang calon suami, seorang calon istripun pastinya mengharapkan laki-laki yang baik dan shaleh untuk menjadi pendamping hidupnya; karena memang, petunjuk untuk wanita muslimah dalam hal memilih calon suami adalah harus sesusai dengan standar agama. Memilih calon suami tidak cukup hanya dengan melihat ketampanan, penampilan, jabatan, kekayaan dan lain sebagainya. Tetapi yang paling utama adalah akhlak dan agamanya. Terlebih seorang suami kelak menjadi seorang pemimpin dalam hidup berumah tangga. Maka haruslah pemimpin itu seorang yang sudah memiliki bayangan kemana kapal hendak berlabuh, kemana tempat hendak dituju. Agama dan akhlak merupakan tiang kehidupan berumah tangga dan juga perhiasan yang sangat berharga yang dikenakan oleh suami. Dengan kematangan agama tentulah seorang suami tidak akan membawa istri menuju kesesatan. Seorang suami yang memiliki pemahaman mendalam tentang agama, akan selalu menjadi suami ideal dimata sang istri. Mengenai dua sifat mulia seorang laki-laki ini, ada sebuah hadits nabi yang berbunyi: "Apabila datang kepada kalian seorang laki-laki yang kalian ridhoi agama dan aklaknya, maka nikahkanlah dia, dan jika tidak, maka akan terjadi fitnah dimuka bumi dan kerusakan yang besar." [HR. Tirmidzi, Ibn Majah dan al-Hakim]. Seorang suami yang sholeh adalah laki-laki yang beriman, taat beribadah, yang sadar dan berpikiran terbuka, jauh dari kejahatan, bersih diri baik agama maupun moralnya. Dia juga memiliki tanggung jawab yang besar terhadap diri dan keluarganya. Dalam hal memilih calon suami, bagi seorang wanita muslimah, sebenarnya adalah kewajiban sang ayah. Ayahlah yang berkewajiban memilihkan calon suami untuk anaknya. Namun demikian, Islam pun menghormati wanita dengan diberikan hak untuk memilih suami dan orang tua tidak diperbolehkan untuk memaksa putrinya. Namun demikian, peran orang tua tetap dibutuhkan paling tidak untuk menasehati dan membimbing sang anak. Karena bagaimanapun orang tua memiliki banyak pengalaman hidup dan pergaulan dengan orang banyak. Adapun landasan diberikannya hak memilih bagi seorang wanita adalah sabda Rasulullah Saw. yang berbunyi: Terkadang, dengan niat awal untuk ta’aruf, sebagian pria terjebak dalam aksi-aksi yang menjurus ke bentuk pacaran yang jelas-jelas dilarang dalam Islam. Pertama diawali dengan bertemu muka, dan mengobrol seadanya, dengan ditemani mahram. Lalu pertemuan itu diulang hingga beberapa kali, dengan alasan untuk semakin mengenal pasangannya. Lalu kemudian berlanjut dengan pertemuan-pertemuan tanpa ditemani mahram. Itu pun awalnya, hanya memperbincangkan hal-hal yang serius, yang betul-betul penting. Namun kemudian mereka ngobrol betulan. Memang, masih dengan tetap mengenakan hijab, tapi obrolan sudah tidak terkontrol, dan terjadilah saling memandang yang diharamkan itu. Dan sudah pasti, terjadi juga berdua-duaan yang juga tak dibenarkan dalam Islam. Semua itu terjadi secara mengalir begitu saja. Mereka tidak berniat pacaran, tapi akhirnya terjebak juga dalam simbol-simbolnya. Itulah maka saya suka menyebutnya sebagai ‘semi pacaran’. Hal-hal yang terjadi di luar kesadaran, biasanya relatif terkesan natural, sehingga kesan mengalirnya lebih jelas, dan membuat orang lupa memikirkan berbagai hal. Tapi sudah seharusnya setiap muslim dan muslimah tetap ingat bahwa ta’aruf adalah proses menuju pernikahan. Sementara pernikahan itu sendiri adalah lembaga yang suci. Setiap hal yang suci harus dimulai dari kesucian. Kalau saat memulainya saja seseorang sudah berani melanggar aturan-aturan Allah, sudah menodai makna menikah menjadi bagian dari aktivitas maksiat, maka bisalah ditebak bagaimana rumah tangga yang tercipta dari gaya berta’aruf seperti itu. “Sesungguhnya Allah menyukai hal-hal yang luhur dan mulia, serta membenci hal-hal yang rendah dan hina.” (Dirwiayatkan oleh Ath-Thobraanie, dinyatakan shohih oleh Al-Albaani dalam Shohiehu ‘l-Jaami’ dengan nomor 1890. Arti ungkapan, “..hal-hal yang luhur dan mulia…” adalah akhlak yang disyariatkan serta karakter yang terbentuk oleh ajaran agama.) Mata kita mungkin saja digelapkan oleh gemerlap dunia, keindahan syahwat, atau hiburan nafsu. Tapi persoalannya, kita masih punya iman. Nurani kita amat mengetahui adanya kecenderungan nafsu yang mulai merambati jiwa kita. Naluri jahat bisa saja membungkus dosa dan maksiat dengan jubah kebenaran, menutupi kekeliruan dan kesalahan dengan selimut syariat yang Maha Bijaksana. Tapi fitrah dan nurani yang sehat, yang masih berisi iman, selalu saja mengetahui tipu daya itu. Hanya persoalannya, kita mengabaikannya atau tidak. Yang sering terjadi, sebagian kita mengabaikan begitu saja peringatan hati nurani tersebut. Kita sudah mengetahui batasan yang ada, tapi sengaja kita tabrak. Kita sudah tahu adab dan etika dalam berta’aruf, etika dan aturan Islam terhadap lawan jenis yang bukan mahram, yang baru saja hendak kita ajak berkenalan sebagai calon pasangan kita, tapi kemudian kita abaikan semua etika tersebut. Bagi kalangan muda mudi, mengobrol dengan lawan jenis memang seringkali menggoda. Oh ya, ternyata bukan hanya muda-mudi saja. Sebagian kalangan yang sudah cukup berumur tapi terlambat menikah, atau bisa jadi orang yang sudah beristri dan ingin mengenal wanita lain sebagai calon keduanya, ternyata juga sering tergoda untuk menikmati obrolan dengan wanita bukan mahramnya tersebut. Maksud hati hanya ingin mengenal lebih jauh, justru mereka terjebak untuk bermaksiat lebih jauh. Tawaran maksiat itu terlalu indah untuk tidak dinikmati, terutama bila hati sudah tertembus panah iblis. Yah, berbagai alasan bisa saja digulirkan untuk setidaknya mengaburkan kesan-kesan dosa pada aksi-aksi tersebut. Seolah-olah segala aksi maksiat itu akan begitu saja terabaikan, selama niat dan tujuannya adalah baik, selama keinginannya adalah menikah dengan cara yang disyariatkan, dengan wanita yang dianggap ‘shalihah’. Bukankah itu yang disebut Al-Ghaayatu tubarrirul wasielah, ‘tujuan yang baik itu bisa menghalalkan segala cara,’ yang notabene adalah motto kalangan modernis dan sekuler? Saya yakin mereka tidak berniat seperti itu. Ini hanya soal begitu mudahnya seseorang itu tergoda bermaksiat, ketika tawaran-tawaran maksiat itu begitu memikat hati, apalagi kalau sudah soal hubungan dengan lawan jenis. Tapi akan menjadi sangat ironis ketika itu terjadi dalam penerapan sebuah kebiasaan yang dianggap paling sesuai dengan panduan syariat. Sungguh merupakan kenyataan yang ironis, jika itu terjadi, saat kita sedang berhadapan dengan budaya-budaya multidimensional, gaya hidup yang sudah terkotori oleh pemikiran kaum kafir, dan kita datang dengan alternatif budaya Islam, yang salah satunya diwakili oleh ta’aruf. Saya hanya kembali menegaskan, jangan biarkan kebiasaan baik ini akhirnya ternoda oleh aplikasi yang kebablasan itu.
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Sebagian dari kita tentu sudah pernah merasakan bagaimana menghadapi berbagai benturan-benturan dalam setiap permasalahan yang telah kita alami pada saat akan dan menjelang dan menghadapi Pernikahan, kita akan dihadapkan pada persoalaan dan permasalahan yang tentu berbeda-beda tingkat permasalahan tersebut.ada yang dihadapkan pada satu permasalahn yang menurut sebagian orang tidak terlalu diperhatiakn tapi, menurut beberapa orang permasalahan tersebut sangat mengganggu dan membutuhkan penanganan yang serius.
Dan tentu perbedaan penanganan itulah yang sekaligus mengukur tingkat kematangan mental dan pemahaman seseorang dalam menyikapi pernikahan tersebut.
Islam sangat gamblang dalam memberikan arahan-arahan yang berkaitan tentang konsep pernikahan, dari mulai bagaimana kita menentukan pasangan, proses perkenalan(ta'aruf), melamar(hitbah), akad nikah sampai mengadakan resepsi pernikahan yang sesuai dengan arahan Al Qur'an dan Sunnah Rosul.
Di sinilah kita akan diuji sejauh mana kematangaan mental apakah sejalan dengan kematangan pemahaman kita akan hal tersebut. tentu pemahaman yang sesuai dengan kedua pijakan tersebutlah yang benar.
Jangan sampai ketika kita sudah siap dan akan mengambil keputusan itu yang dijadikan patokanya adalah ketika kita sudah siap mental saja, ini salah besar, karena perlu diketahui bahwa belum tentu orang yang memiliki kesiapan mental yang tinggi kemudian mereka faham akan konsekuensinya. banyak dari mereka yang melakukannya itu dengan modal nekad.sehingga wajar banyak dari kalangan mereka yang menjalaninya dan kemudian berjatuhan sebelum datang kebahagiaan. Oleh karena itu yang perlu diperhatikan adalah kesiapan mental yang didasari kematangan pemahaman yang cukup. sehingga ketika mengambil keputusan tersebut, akan selalu didasari dengan semua konsekuensi yang nanti akan terjadi. untuk itu yang perlu diperhatikan sebelum menentukan keputusan tsb adalah dengan memahami hal-hal sebagai berikut:
1. Bagaimana menentukan pasangan yang tepat.
2. Bagaimana melakukan proses perkenalan(ta'aruf) yang sesuai dengan syari'at islam
3. Bagaimana menjalankan proses hitbah(melamar) yang benar
4. Bagaimana ketentuan Ijab qobul
5. Bagaimana merayakan acara resepsi yang tidak terkandung didalamnya kemaksiatan dan kemubadziran.
Bagaimana menentukan pasangan yang tepatMemilih Calon Istri
Memilih Calon Suami
Bagaimana melakukan proses perkenalan(ta'aruf) yang sesuai dengan syari'at islam
ada pengalaman menarik berkaitan dengan masalah hitbah ini, sebut saja Herman, beliau telah menjalankan proses ta'aruf sampai dengan kesepakatan niat untuk hitbah, di pertengahan waktu yang telah disepakati bulan, hari/tgl,dan jamnya tiba2 ada sebuah permintaan dari keluarga pihak akhwatnya untuk menentukan acara hitbah tersebut dengan adat dari keluarga besar akhwatnya yaitu untuk menyertakan seperangat cinderamata yang nilainya tidak sedikit yang membuat pihak ikhwannya memutar otak yang akhirnya di sudahi dengan sms dari pihak ikhwan "aslm, dgn mengucap bismillah dn istikhoroh selama seminggu ini proses ana sudahi smpai disini sj, smg apa yg tlh kt lalui mnjdi pembelajaran dn menguatkan jalinan ukhuwah diantara qt. aminn
itulah sedikit cerita yang sebetulnya kesalahan kurang komunikasi baik dr pihak akhwat at ikhwan. yang perlu dibahas disini adalah jangan sampai proses yang telah qt jalani dengan kemantapan digagalkah dengan hal2 yang sebetulnya tidak syar'i.jangan sampai acara hitbah menjadi memberatkan atau menyulitkan kedua belah pihak.saya punya pengalaman yang mungkin bs menjadi pelajaran buat teman2 yang mungkin ingin mengambil ibroh didalamnya, proses ta'aruf yang saya jalani cukup singkat dari mulai penawaran biodata sampai hitbah yang kemudian akad nikah dan resepsi, ta'aruf satu kali yang kemudian langsung ke tmpt orang tua akhwatnya yang akhirnya saya menetapkan untuk hitbah satu minggu berikutnya dengan membawa kel. kecil sekedar silaturahmi dan akhirnya 2mg kemudian walimah.bukan berarti tidak ada hal2 yang menghambat perencanaan awal tp karena qt sudah coba me leading skenario dan sudah dikomunikasikan dengan kedua belah pihak.
dari hal tersebut cobalah untuk tetap leading ke keluarga qt masing2 dalam hal perencanaan yang tentunya tetap dikomunikasikan dengan orang tua.jgn sampai masalah2 sepele menjadi penghambat perencanaan kita.
Bagaimana ketentuan Ijab qobul
Bab ini mungkin sudah menjadi hal yang tidak terlalu membutuhkan perencanaan yang matang, walaupun peristiwa ini adalah yang terpenting dari semua proses perjalananya, tapi biasanya taaruf dan hitbah yang banyak menemui kendala, oleh karenanya tidak menjadi catatan pembahasan.
Bagaimana merayakan acara resepsi yang tidak terkandung didalamnya kemaksiatan dan kemubadziran.
Walimah merupakan sunnah, diadakan dengan tujuan agar masyarakat mengetahui pernikahan yang berlangsung sehingga tidak terjadi fitnah di kemudian hari terhadap dua orang yang menikah tersebut. Sedangkan mengenai tata cara penyelenggaraannya, syariat memberikan petunjuk sebagai berikut:
Khutbah sebelum akad
Disunnahkan ada khutbah sebelum akad nikah yang berisi nasihat untuk calon pengantin agar menjalani hidup berumah tangga sesuai tuntunan agama.
Menyajikan hiburan
Walimah merupakan acara gembira, karena itu diperbolehkan menyajikan hiburan yang tidak menyimpang dari etika, sopan santun dan adab Islami.
Jamuan resepsi (walimah)
Disunnahkan menjamu tamu yang hadir walaupun dengan makanan yang sederhana. (Dari Anas bin Malik ra bahwa Nabi SAW telah mengadakan walimah untuk Shofiyah istrinya dengan kurma, keju, susu, roti kering dan mentega).
Diriwayat lain, Rasulullah SAW bersabda kepada Abdurrahman bin Auf, "Adakanlah walimah meski hanya dengan seekor kambing." Sedangkan mengenai batasan mengadakan walimah As-Syaukani dalam Nailul Authar menyebutkan bahwa Al Qadhi Iyadh telah mengemukakan bahwa para ulama sepakat tidak ada batasan khusus untuk walimah, meski diadakan dengan yang paling sederhana sekalipun diperbolehkan. Yang disunnahkan adalah bahwa acara itu diadakan sesuai dengan kemampuan suami.
Masih banyak pelajaran lain yang bisa dipetik berkaitan dengan acara walimah ini, yang membuat kita sampai pada satu kesimpulan bahwa menikah dengan cara Islam ternyata memang mudah, murah dan berkah!
didukung dari beberapa sumber:
fatamedia.worpress.com
www.eramuslim.com
15 Juli 2009
KESIAPAN MENTAL versus KEMATANGAN PEMAHAMAN
Perkembangan anak bagian 2(Perubahan mental)
Perkembangan anak bagian 1(Perubahan fisik)
Catatan Istri bagian 1
Awal Aktifitasnya di SDIT Al HAmmidiyah
Setiap aktifitas yang melibatkan komunitas banyak memang gampang-gampang susah tergantung bagaimana menyikapinya,seperti halnya ketika beraktifitas sebaagai guru yang didalamnya qt hadapkan baik dengan objek itu sendiri yaitu murid-murid didikannya atau dengan guru yang lainnya yang tidak memiliki persepsi yg sama dalam memandang keduanya.
bersambung....
26 Mei 2009
Memahami Penyebab Kegagalan
Memahami Penyebab Kegagalan
Oleh : M Taufik NT
George Washington Carver menyatakan bahwa 99% kegagalan datang dari orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan. Mereka adalah orang-orang yang ’sukses’ dalam hal mencari alasan untuk melegitimasi agar dirinya bisa dikatakan ‘wajar’ kalau gagal.
Dalam buku The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz menjelaskan mengenai penyakit pikiran yang mematikan yakni penyakit dalih (excuisitis). Orang-orang gagal senantiasa berdalih mengenai kegagalan mereka. Penyakit dalih tersebut biasanya muncul dalam 4 bentuk, yaitu: dalih kesehatan, dalih inteligensi, dalih usia dan dalih nasib.
Dalih kesehatan biasanya ditandai dengan ucapan, “fisik saya lemah”, “Saya tidak enak badan”, “saya cacat”, dan sejenisnya. Orang sukses tidak pernah menganggap cacat nya itu sebagai hambatan. ‘Amr ibnul Jamuh, seorang shahabat yang sangat pincang, dan Allah memberi keringanan kepada orang pincang untuk tidak ikut berperang (Al Fath :17), beliau tetap ingin terjun dalam perang badar demi merindukan syahid. Ketika itu anaknya melobi Rasulullah agar mencegah niat bapaknya untuk ikut jihad dan Rasulullah melarangnya. Ketika datang seruan untuk perang uhud, dia berkata kepada anak-anaknya: ”kalian telah melarangku ikut dalam perang badar, maka janganlah melarangku untuk keluar dalam perang uhud”, anak-anaknya menjawab: “sesungguhnya Allah memberimu keringanan”. Kemudian Amr bin Al Jamuh mendatangi Rasulullah dan berkata : ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak-anakku ingin menghalangiku keluar bersama engkau dalam urusan (perang)ini, demi Allah sesungguhnya aku berharap masuk surga dengan kepincanganku ini” Rasulullah berkata: “adapun engkau, Allah telah memaafkanmu (dari tidak berperang), maka tidak ada (kewajiban) jihad bagimu”. Dan Rasulullah berkata kepada anak-anak ‘Amr: “tidak ada hak bagi kalian untuk mencegahnya dari (berjihad) barangkali Allah akan memberi rizki syahid kepadanya. ‘Amr kemudian pergi dengan pedangnya, dan berdo’a: ‘Ya Allah, karuniakan kepadaku syahadah (mati syahid), dan jangan kembalikan aku kepada keluargaku dengan kegagalan (meraih syahid)’. Akhirnya ia memang syahid dalam perang uhud, dan Rasulullah bersabda: ‘demi dzat yang diriku dalam genggamannya, sungguh aku melihatnya memasuki surga dengan kepincangannya’. Bahkan non muslim yang punya cacat fisik juga bisa menjadi tokoh besar dunia. Presiden Amerika ke-32 Franklin D Roosevelt menderita polio, Shakespeare lumpuh dan Beethoven (ahli musik) tuli.
Dalih intelegensi, banyak orang sering gagal menghadapi situasi yang menantang karena mereka merasa bahwa untuk menghadapi tantangan dan mengambil peluang tersebut “diperlukan otak yang cerdas.” Akan tetapi, kemudian datanglah orang yang tidak peduli mengenai intelegensi, ia pun mendapatkan peluang itu dan akhirnya menikmati keberhasilan.
Dr. Edward Teller, salah seorang ahli ilmu fisika terkemuka, berkata, “Anak tidak memerlukan otak yang dapat berpikir cepat agar menjadi ilmuwan, ia juga tidak memerlukan ingatan yang menakjubkan, dan juga tidak perlu bahwa ia harus mendapatkan nilai yang sangat tinggi di sekolah. Satu-satunya hal yang penting adalah si anak mempunyai tingkat minat yang tinggi akan ilmu pengetahuan.”
Minat, antusiasme –itulah faktor yang sangat penting bahkan dalam ilmu pengetahuan!
Dengan sikap yang positif, optimis, dan kooperatif seseorang dengan IQ100 akan mencapai keberhasilan lebih besar dan mendapatkan respek atau penghargaan yang lebih besar dibandingkan orang yang negatif, pesimis, dan tidak kooperatif walaupun ia memiliki IQ120.
Orang selalu ragu atau bahkan enggan untuk melakukan sesuatu yang dianggap sulit karena alasan tidak memiliki kecerdasan yang cukup untuk melakukannya. Hal ini karena ada beberapa anggapan yang keliru mengenai pengetahuan. Kita sering mendengar bahwa pengetahuan adalah kekuatan. Akan tetapi pernyataan ini hanya benar separuhnya. Pengetahuan adalah kekuatan yang potensial. Artinya, pengetahuan baru menjadi kekuatan jika diterapkan – dan hanya jika pemakaiannya konstruktif.
Ada kisah bahwa ilmuwan besar Einstein pernah ditanya ada berapa kaki (sekitar 30 cm) dalam satu mil. Einstein menjawab, “Saya tidak tahu. Mengapa saya harus mengisi otak saya dengan fakta yang dapat saya temukan dalam waktu dua menit di dalam buku acuan yang standar?”
Dalih Usia, banyak orang berkata: ’saya sudah tua untuk itu’ padahal seharusnya tidak ada kata terlambat untuk berusaha. Seorang sahabat ‘Ubaidillah bil Al Harits telah berusia lebih dari 50 tahun, namun beliau adalah termasuk pejuang Islam yang pertama yang menghadapi kerikil tajam dakwah di Makkah saat itu.
Dalih Nasib, ini yang paling sering dikatakan oleh orang yang bermental gagal, ‘ah memang saya takdirnya begini’, kemudian ia berpangku tangan malas berusaha, ini pula dalih orang musyrik untuk tidak beriman, mereka merasa bahwa merupakan nasib/takdir mereka untuk menjadi musyrik. Allah mengatakan dalam surat Az Zukhruf :20:
وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ مَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan mereka berkata: “Jika Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.
22 Mei 2009
Rosulullah Manusia Paling Berpengaruh Di Dunia
Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.
Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.
Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia.
Umumnya, bangsa Arab saat itu tak memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia empatpuluh tahun, Muhammad yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu kepadanya dan memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar.
Selama tiga tahun Muhammad hanya menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.
Peristiwa hijrah ini merupakan titik balik penting bagi kehidupan Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah kecil pengikut, dan di Medinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo cepat dia dapat memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang kekuasaan yang sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut Muhammad bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mektah dan Madinah. Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada pihak Muhammad, kembali ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah tahun dari hidupnya dia menyaksikan kemajuan luar-biasa dalam hal cepatnya suku-suku Arab memeluk Agama Islam. Dan tatkala Muhammad wafat tahun 632, dia sudah memastikan dirinya selaku penguasa efektif seantero Jazirah Arabia bagian selatan.
Suku Bedewi punya tradisi turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi, Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah timurlaut Arab berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di baratlaut Arabia berdiri Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai pusatnya.
Ditilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642.
Tapi, penaklukan besar-besaran --di bawah pimpinan sahabat Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab-- itu tidak menunjukkan tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol.
Sepintas lalu orang mesti mengira pasukan Muslim akan membabat habis semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun 732, dalam pertempuran yang masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin yang telah maju ke pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang Frank. Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuwil abad pertempuran, orang-orang Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad- telah mendirikan sebuah empirium membentang dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai Samudera Atlantik, sebuah empirium terbesar yang pernah dikenal sejarah manusia. Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu disusul dengan berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam.
Ternyata, tidak semua penaklukan wilayah itu bersifat permanen. Orang-orang Persia, walaupun masih tetap penganut setia Agama Islam, merebut kembali kemerdekaannya dari tangan Arab. Dan di Spanyol, sesudah melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya berhasil dikuasai kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia dan Mesir dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab seperti halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja, menyebar terus dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India sebelah utara serta Indonesia. Di Indonesia, Agama Islam yang baru itu merupakan faktor pemersatu. Di anak benua India, nyaris kebalikannya: adanya agama baru itu menjadi sebab utama terjadinya perpecahan.
Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama.
Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia "pencatat" Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.
Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.
Dari pelbagai peristiwa sejarah, orang bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Muhammad dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil tanpa Muhammad. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan
Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak, boleh jadi sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 - 1974. Sebaliknya bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara Arab, yang mengambil langkah embargo minyak.
Jadi, dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.
Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart, 1978
Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat
