Assalamualaikum Wr.Wb.

Selamat Datang di Blog KAREVA Tempat belajar dan mengembangkan kreatifitas dan berbagi pengalaman

26 Mei 2009

Memahami Penyebab Kegagalan

Memahami Penyebab Kegagalan
Oleh : M Taufik NT

George Washington Carver menyatakan bahwa 99% kegagalan datang dari orang yang punya kebiasaan suka membuat alasan. Mereka adalah orang-orang yang ’sukses’ dalam hal mencari alasan untuk melegitimasi agar dirinya bisa dikatakan ‘wajar’ kalau gagal.
Dalam buku The Magic of Thinking Big, David J. Schwartz menjelaskan mengenai penyakit pikiran yang mematikan yakni penyakit dalih (excuisitis). Orang-orang gagal senantiasa berdalih mengenai kegagalan mereka. Penyakit dalih tersebut biasanya muncul dalam 4 bentuk, yaitu: dalih kesehatan, dalih inteligensi, dalih usia dan dalih nasib.
Dalih kesehatan biasanya ditandai dengan ucapan, “fisik saya lemah”, “Saya tidak enak badan”, “saya cacat”, dan sejenisnya. Orang sukses tidak pernah menganggap cacat nya itu sebagai hambatan. ‘Amr ibnul Jamuh, seorang shahabat yang sangat pincang, dan Allah memberi keringanan kepada orang pincang untuk tidak ikut berperang (Al Fath :17), beliau tetap ingin terjun dalam perang badar demi merindukan syahid. Ketika itu anaknya melobi Rasulullah agar mencegah niat bapaknya untuk ikut jihad dan Rasulullah melarangnya. Ketika datang seruan untuk perang uhud, dia berkata kepada anak-anaknya: ”kalian telah melarangku ikut dalam perang badar, maka janganlah melarangku untuk keluar dalam perang uhud”, anak-anaknya menjawab: “sesungguhnya Allah memberimu keringanan”. Kemudian Amr bin Al Jamuh mendatangi Rasulullah dan berkata : ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak-anakku ingin menghalangiku keluar bersama engkau dalam urusan (perang)ini, demi Allah sesungguhnya aku berharap masuk surga dengan kepincanganku ini” Rasulullah berkata: “adapun engkau, Allah telah memaafkanmu (dari tidak berperang), maka tidak ada (kewajiban) jihad bagimu”. Dan Rasulullah berkata kepada anak-anak ‘Amr: “tidak ada hak bagi kalian untuk mencegahnya dari (berjihad) barangkali Allah akan memberi rizki syahid kepadanya. ‘Amr kemudian pergi dengan pedangnya, dan berdo’a: ‘Ya Allah, karuniakan kepadaku syahadah (mati syahid), dan jangan kembalikan aku kepada keluargaku dengan kegagalan (meraih syahid)’. Akhirnya ia memang syahid dalam perang uhud, dan Rasulullah bersabda: ‘demi dzat yang diriku dalam genggamannya, sungguh aku melihatnya memasuki surga dengan kepincangannya’. Bahkan non muslim yang punya cacat fisik juga bisa menjadi tokoh besar dunia. Presiden Amerika ke-32 Franklin D Roosevelt menderita polio, Shakespeare lumpuh dan Beethoven (ahli musik) tuli.
Dalih intelegensi, banyak orang sering gagal menghadapi situasi yang menantang karena mereka merasa bahwa untuk menghadapi tantangan dan mengambil peluang tersebut “diperlukan otak yang cerdas.” Akan tetapi, kemudian datanglah orang yang tidak peduli mengenai intelegensi, ia pun mendapatkan peluang itu dan akhirnya menikmati keberhasilan.
Dr. Edward Teller, salah seorang ahli ilmu fisika terkemuka, berkata, “Anak tidak memerlukan otak yang dapat berpikir cepat agar menjadi ilmuwan, ia juga tidak memerlukan ingatan yang menakjubkan, dan juga tidak perlu bahwa ia harus mendapatkan nilai yang sangat tinggi di sekolah. Satu-satunya hal yang penting adalah si anak mempunyai tingkat minat yang tinggi akan ilmu pengetahuan.”
Minat, antusiasme –itulah faktor yang sangat penting bahkan dalam ilmu pengetahuan!
Dengan sikap yang positif, optimis, dan kooperatif seseorang dengan IQ100 akan mencapai keberhasilan lebih besar dan mendapatkan respek atau penghargaan yang lebih besar dibandingkan orang yang negatif, pesimis, dan tidak kooperatif walaupun ia memiliki IQ120.
Orang selalu ragu atau bahkan enggan untuk melakukan sesuatu yang dianggap sulit karena alasan tidak memiliki kecerdasan yang cukup untuk melakukannya. Hal ini karena ada beberapa anggapan yang keliru mengenai pengetahuan. Kita sering mendengar bahwa pengetahuan adalah kekuatan. Akan tetapi pernyataan ini hanya benar separuhnya. Pengetahuan adalah kekuatan yang potensial. Artinya, pengetahuan baru menjadi kekuatan jika diterapkan – dan hanya jika pemakaiannya konstruktif.
Ada kisah bahwa ilmuwan besar Einstein pernah ditanya ada berapa kaki (sekitar 30 cm) dalam satu mil. Einstein menjawab, “Saya tidak tahu. Mengapa saya harus mengisi otak saya dengan fakta yang dapat saya temukan dalam waktu dua menit di dalam buku acuan yang standar?”
Dalih Usia, banyak orang berkata: ’saya sudah tua untuk itu’ padahal seharusnya tidak ada kata terlambat untuk berusaha. Seorang sahabat ‘Ubaidillah bil Al Harits telah berusia lebih dari 50 tahun, namun beliau adalah termasuk pejuang Islam yang pertama yang menghadapi kerikil tajam dakwah di Makkah saat itu.
Dalih Nasib, ini yang paling sering dikatakan oleh orang yang bermental gagal, ‘ah memang saya takdirnya begini’, kemudian ia berpangku tangan malas berusaha, ini pula dalih orang musyrik untuk tidak beriman, mereka merasa bahwa merupakan nasib/takdir mereka untuk menjadi musyrik. Allah mengatakan dalam surat Az Zukhruf :20:
وَقَالُوا لَوْ شَاءَ الرَّحْمَنُ مَا عَبَدْنَاهُمْ مَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan mereka berkata: “Jika Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat).” Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.